Senin, 24 Oktober 2011

GERAKAN HIJAU DARI RUMAH

Oleh
Pipin Noviati Sadikin
Sumber: Lombok Post



Siapa bilang persoalan lingkungan hidup bukan urusan kita bersama? Kalau bukan kita yang peduli, siapa lagi? Karena itu, mari selamatkan bumi kita dengan cara yang mudah dan murah, dimulai dari rumah.
Sumber daya alam yang berkelanjutan, itulah tujuan Gerakan Hijau (Go Green) yang sering kita dengar. Dengan demikian, bumi kita tercinta ini bisa kita wariskan kepada anak cucu kita dengan limpahan karunia alam yang tak ternilai harganya. Kita perlu berkomitmen dan tanpa menyerah melakukan gerakan ini. Langkah sekecil apapun, akan sangat berarti bila dilakukan bersama-sama. Mulailah dari diri sendiri dengan cara yang sederhana, mudah dan murah di lingkungan terdekat kita, yaitu di rumah kita sendiri bersama seluruh anggota keluarga. Berikut ini adalah Gerakan Hijau sederhana yang bisa kita lakukan dari rumah:

1. Udara di Rumah
Rasakan udara di rumah apakah melegakan pernafasan atau tidak. Apakah ada aroma sehat seperti tanah basah, rumput segar, harum bunga atau masakan? Identifikasi bila tercium aroma produk rekayasa manusia, yang pasti mengandung bahan kimia beracun dan berbahaya (B3), seperti obat nyamuk, pewangi ruangan, cat, thinner, pengawet kayu,  pembersih, anti-hama, kertas dan lainnya.  Gunakanlah produk Non Aerosol, untuk mengganti produk pewangi Aerosol, serta ganti obat anti nyamuk semprot dengan elektrik.

Gunakanlah produk Non CFC, seperti AC Non CFC, karena kandungan freon berpotensi merusak lapisan ozon bumi. Bila memasang AC, turunkan suhu AC hingga cukup sejuk, karena semakin dingin suhu AC maka semakin banyak energy yang dikonsumsi. Selain itu, buatlah system ventilasi yang baik agar sirkulasi udara lancar dan mengurangi pemakaian AC terus-terusan.

2. Hemat Listrik di Rumah
Gunakanlah lampu neon yang jauh lebih irit dan tahan lama ketimbang bola lampu biasa. Nyalakan lampu seperlunya, dan matikan lampu setelah pemakaian. Pada siang hari, optimalkan sinar matahari untuk pencahayaan. Desain ulang atap dan dinding rumah untuk mendapatkan cahaya sinar matahari.

Cabutlah kabel charge hp atau peralatan elektronik lainnya bila  baterei sudah penuh, atau bila sedang tidak digunakan. Matikan seluruh alat yang menggunakan listrik, ketimbang menggunakan modus standby, karena modus tersebut justru menggunakan energi listrik lebih banyak. Bila bepergian, matikan steker listrik dan cabutlah kabel peralatan elektronik dari stop kontak. Meski dalam kondisi mati bila peralatan elektronik masih terhubung dengan sumber listrik maka masih menyerap arus listrik sekitar 40 %.
Konsultasikan dengan pramuniaga produk elektronik hemat energi yang akan kita beli. Perbandingkan besar energi listrik yang diserap dengan fungsi yang disediakan dan pilih yang lebih hemat.

3. Bijaksana Menggunakan Air
Informasikan pada anak-anak bahwa air terbatas dan tidak melimpah selamanya. Batasi penggunaan air untuk mandi dan mencuci. Hemat air bukan berarti menurunkan standar kebersihan. Perbaiki segera bila pipa air yang bocor, keran menetes dan tidak menutup sempurna. Siramlah taman dengan bijak, misalnya memanfaatkan air cucian beras untuk menyiram anggrek. Bila memungkinkan, pilihlah tanaman yang tidak membutuhkan air terlalu banyak. Mencuci mobil pun tidak perlu dengan air yang mengalir.

4. Menanam tanaman anti polusi dan asli lokal
Hiasi halaman rumah dengan tanaman hijau lokal, karena tanaman eksotis (tanaman yang bukan asli lokal daerah tertentu) akan mengancam kelestarian tumbuhan asli lokal.  Tanam juga tanaman anti polusi seperti: Pohon Dadap Merah, Pohon Kelengkeng, Pohon Bungur dan Mahoni, Bunga Warna-Warni, Lumut, Tanaman Sirih Belanda (Devil’s Ivy), Kembang Sepatu, Sansevieria, atau Pohon Trembesi. Manfaatkanlah sampah dapur Anda untuk pupuk kompos, sehingga rumah pun terlihat segar dan udara pun terasa sejuk.

5. Kurangi Sampah
Bawalah tas kain dari rumah daripada menambah jumlah tas plastic, pilihlah bahan pembungkus/kemasan yang ramah lingkungan serta bisa didaur ulang, serta manfaatkanlah wadah makan dengan food grade untuk mengurangi penggunaan wadah/kantong plastic. Gunakan kembali amplop bekas dan kertas bolak-balik. Bila mungkin, kurangi menulis di kertas. Saat ini sudah mulai era paperless. Gunakan handphone atau laptop untuk mencatat, dan manfaatkanlah email dan e-book. Hindari memakai barang sekali pakai seperti piring plastic, kertas, sendok garpu, atau tisu. Pakailah saputangan atau serbet.

6. Kelola Sampah (Daur Ulang/Gunakan Kembali)
Pilahlah sampah bahan organik dan anorganik. Sampah berupa wadah berbahan plastik dapat diserahkan pada institusi yang bisa mendaur-ulangnya. Sampah Basah bisa didaur ulang dengan mengolahnya menjadi kompos. Gunakan kembali barbeku (barang bekas berkualitas) misalnya kaleng bekas, botol bekas, kardus bekas dan lain-lain, serta sumbangkan barbeku pada yang membutuhkannya, misalnya seperti pakaian, sepatu, mainan, bahkan alat elektronik.

Buang sampah pada tempatnya, dimanapun berada. Jika tidak ada tempat sampah, simpanlah sampai menemukan tempat sampah. Kebiasaan buang sampah sembarangan banyak sekali dijumpai di sekelilng kita.

7. Pilah Sampah Bahan Beracun dan Berbahaya (B3)
Kelola limbah baterai bekas ini secara khusus dan terpisah dari sampah lainnya. Bila tersedia, serahkan baterai kepada institusi yang mengurusi pengelolaannya dengan teknologi untuk dinetralisir dan dihancurkan agar tidak mencemari lingkungan. Jika limbah baterai ini dibuang sembarangan maka makin lama logam berat di dalamnya akan mencemari air dan tanah penduduk, kemudian mengancam kehidupan ikan, tanaman, perusakan lingkungan dan secara tidak langsung mengancam kesehatan manusia. Jika air yang tercemar ini digunakan oleh masyarakat bisa menyebabkan penyakit kronis di sistem saraf pusat, ginjal, sistem reproduksi dan kanker.

8. Bijaksana Berkendaraan
Servis kendaraan perlu kita lakukan secara rutin. Kondisi mesin yang prima akan menghemat konsumsi bahan bakar. Segera perbaiki bila ada kerusakan pada kendaraan kita. Jual onderdil kendaraan yang tidak terpakai. Selain bernilai ekonomis, menjual onderdil kendaraan akan memperlancar proses penggunaan kembali jika ada orang lain yang lebih membutuhkannya.

9. Bijaksana Menggunakan Produk
Gunakan Produk kecantikan tanpa Ujicoba pada binatang (no animal testing) atau tidak mengandung bagian tubuh/unsur tubuh binatang. Periksa labelnya atau konsultasikan produk tersebut dengan pramuniaga sebelum membeli. Bayangkan jika kita menyakiti hewan untuk tampil cantik.

10. Bijaksana di dapur
Masak bahan makanan dalam potongan kecil karena lebih cepat matang. Sayuran dan buah hendaknya dicuci terlebih dahulu sebelum dikonsumsi. Namun sebaiknya tidak berlama-lama mencuci sayur dan buah dibawah air mengalir.
Belilah produk lokal yang ramah lingkungan. Belanjalah bahan makanan yang dihasilkan di sekitar kita atau ditanam oleh petani dari kota tetangga daripada mengkonsumsi buah dan sayur impor. Sebagai pilihan, konsumsi sayur dan buah organik. Selain lebih sehat, sayur dan buah organik tidak terpapar bahan kimia sehingga tidak perlu terlalu lama mencucinya Teliti sebelum makan, apakah bahan makanan kita mengandung bagian tubuh satwa dilindungi atau tidak.
Sisa nasi dan sayur bisa dimanfaatkan sebagai pupuk alami kompos. Sedikit ruang di sudut halaman bisa jadi ‘pabrik’ pupuk kompos.  Bila kita tidak punya cukup lahan untuk membuat lubang kompos. Sekarang ini ada keranjang sampah yang didesain untuk menggantikan fungsi tanah dalam pengomposan. Dengan begitu kita tetap bisa mengompos sampah dapur meski tinggal di rumah mungil atau kamar kos.

11. Bijaksana Mencuci dan Mandi
Gunakanlah Deterjen tanpa Fosfat, agar tidak mengganggu mengganggu kehidupan ikan dan organisme lain yang hidup di dalam sungai.  Fosfat dengan konsentrasi tinggi dapat menyuburkan alga, enceng gondok dan tumbuhan sejenis di sungai. Tetapi jumlah yang terlalu banyak dapat menurunkan kandungan oksigen di dalam sungai dan menghalangi penetrasi sinar matahari yang berguna bagi ikan dan organisme lain.
Hindari penggunaan sabun antiseptik berlebihan. Sabun antiseptik menjanjikan kita terbebas dari mikroorganisme penyebab penyakit. Padahal sabun ini akan membunuh tidak hanya mikroorganisme merugikan sekaligus mikroorganisme yang menguntungkan manusia.

12. Aktif menularkan Gerakan Hijau dari Rumah
Berpartisipasilah secara aktif mengurangi polusi. Hidup sehat tanpa rokok, tidak seenaknya membakar sampah, dan sebisa mungkin meminimalisasi pemakaian kendaraan bermotor. Ikuti juga kegiatan program Gerakan Hijau di daerah tempat tinggal, misalnya program Urban Farming atau Indonesia Berkebun yang diprakarsai oleh: Shafiq Pontoh dan Ridwan Kamil.
Terapkan pendidikan lingkungan dalam keluarga. Dekatkan anak-anak dengan alam, ajaklah untuk rekreasi alam, dan tidak harus selalu ke mall. Dengan demikian anak-anak sayang terhadap lingkungan dan ikut menjaganya. Contoh dari orang-orang terdekat juga perlu untuk memotivasi mereka menghargai lingkungan. Jadilah pejuang lingkungan dengan menularkan hal-hal tersebut.
Untuk melestarikan alam dan kehidupan ini bukan dengan berapa banyak uang yang kita miliki dan berbagai fasilitas, namun berapa besar kepedulian kita terhadap lingkungan.

Penulis: Pipin Noviati Sadikin
Sumber: Berbagai sumber

Tidak ada komentar: